Friday, May 01, 2009

kehujanan

Awan Gelap Tapi Tidak Hujan

Aku membuka pintu bertuliskan dorong untuk keluar dari minimarket 24 jam, hanya sekedar membeli minuman dingin pikirku. Beberapa langkah aku menuju keluar dari tempat itu hujan berjatuhan dan aku melangkah mundur untuk mencari tempat berteduh. Sial sekali rasanya di tengah malam begini sulit untuk pulang dan sudah tidak ada orang yang berjalan di sekitar sini.

Penjaga memberikan sinyal dari jendela di tempat aku berdiri untuk menyuruhku masuk, tanpa sungkan aku masuk. Hujan turun sangat deras seperti jagung rebus yang tumpah dari langit, bedanya jagung itu bening dan tidak bisa dimakan. Aku bisa sampai pagi berdiri di dalam dengan seorang penjaga toko laki laki sawo matang dengan bekas jerawat yang menghiasi pipinya. Aku mengamati sekelilingku dan hanya ada lampu terang bersinar benderang memperjelas dagangan supermarket ini yang katanya lengkap. Karena aku pikir aku tidak cukup pandai bersosialisasi dengan lelaki berwajah sedikit desa dan mirip buah tomat, aku berjalan mengitari minimarket ini sambil menunggu hujan berhenti.

Belum sempat melangkah banyak, tiba tiba ada lelaki basah kuyup memasuki tempat ini. Dia membuka jas hujannya dan mengeringkan wajah dan rambutnya dengan tangannya. Kini kami bertiga saling bertatap, selang satu detik kami tidak perduli akan kehadiran masing masing. Aku melanjutkan berjalan jalan kecil di dalam minimarket yang semakin lama semakin dingin dan aku merasa ingin dipeluk oleh seseorang, namun pastinya bukan dengan kedua orang aneh itu. Andaikan ada beruang ataupun gorila aku mungkin akan memeluknya di sini sekarang juga. Duitku tinggal receh dan aku mulai kelaparan.

Si penjaga kasir tiba tiba melangkah pelan ke arahku tanpa melepaskan pandangannya padaku. Setelah semakin dekat dia menolehkan lehernya ke arah mie instan di dekatku. Dia membukanya, memakan mie tersebut kering kering. Melihat wajahnya aku ingin tertawa, karena tangan yang digunakan untuk menyuapi mie tersebut diangkat tinggi tinggi untuk dijatuhkan ke dalam mulutnya yang terbuka lebar, aku menahan tawaku dengan menutup mulutku.

Sepertinya dia melihatku, aku takut untuk bertengkar di tempat seperti ini. Aku memaksa diriku untuk berkenalan dengannya. "Nama bapak siapa?" kataku. "Imron, sering ke sini kan? bentaran gw lagi makan yak" balasnya. Imron yang sombong dengan mie remes buatannya sendiri nampaknya sudah meredam kekesalannya karena muka menahan ketawaku.

Aku mulai bingung mesti berperilaku seperti apa, aku duduk bersandar di depan tempat penyimpanan minuman dingin. Lantai seolah membeku dan dari tempatku duduk hanya terlihat kaki Imron dengan sendal jepit dan kakinya yang terlihat banyak bekas luka gigitan nyamuk. Imron melangkah mendekat dan duduk di sebelahku tanpa bicara apapun. Karena aku melihat bungkusan mienya yang berwarna putih dengan kepala yang tertunduk. Imron tiba tiba dengan perlahan mengambil mie didekatnya dan memberikannya kepadaku dengan senyum ringan yang tidak dibuat buat sampai akhirnya dia mengunyah makanannya lagi.

Hujan tidak kunjung reda dan aku terpaksa duduk seperti adegan romantis namun dengan lelaki. Tidak cukup sial, dia berubah menjadi lelaki pemakan mie kering yang mengerikan anggapku. Aku mulai meremas bungkus mie dan mengolahnya sampai sama seperti yang Imron punya. Aku makan mie punyaku dengan cara yang sama. Dari kejauhan lelaki yang nampak sudah seperti kepala keluarga yang baru sampai tadi sudah tertidur di belakang meja kasir dan menggunakan tas yang ia bawa sebagai bantalan lehernya.

"Dia udah 2 minggu tinggal di sini, istrinya meninggal kena kanker paru paru, dia jual rumah buat biaya pengobatan istrinya tapi ternyata istrinya tetap meninggal, jadi dia tetap kerja untuk hidupnya namun pulangnya ke sini" Imron berkata. Aku diam dan bingung mesti berbuat apa, hujan deras di luar dan mataku sudah berat sekali untuk menunggu hujan reda. Dan aku pun tertidur.

Aku terbangun siang hari di ranjang rumahku, aku bergegas merapihkan diri dan menuju ke minimarket kemarin. Aku melihat penjaga kasir yang sama. "Imron, Imron kan?" tanyaku. Iya? Loh kok tau nama saya mas?". Aku mulai menenangkan diriku sendiri, dan aku pulang ke rumah saat itu juga tanpa membeli apapun. Kepalaku pusing dan penat.

Hari berganti ke malam, aku berangkat kembali ke minimarket untuk membeli dan bertanya tanya sedikit kepada Imron. Hari ini tidak hujan, aku masuk ke minimarket dan kembali melihat Imron yang tidak mengenali aku. Aku membeli jus kotak dan meminumnya di tempat, aku berdiri di depan sambil meminumnya setelah membayarnya di kasir. Aku bertanya tanya kepada diriku sendiri. Tiba tiba orang yang kemarin berjaket hujan masuk ke minimarket, kali ini tanpa jaketnya dan mukanya terlihat cerah.

Aku kembali masuk ke dalam untuk memastikan apa yang terjadi. "Wah bagus dong kalo gitu, yaudah semoga istrimu baik baik aja lah" Imron berkata. Aku teringat kemarin ia menceritakan bahwa istrinya sudah meninggal. Lalu aku menyusun pikiran namun pria yang tidak dikenal itu sudah menyusun langkahnya untuk keluar dari tempat itu sambil tersenyum senyum.

Tak kuat menahan rasa penasaran aku menepuk pundaknya. Dia berbalik dan berkata "ada apa ya dek?". "Istri bapak kenapa? Tadi saya denger di dalem pak" kataku. Lalu bapak itu bercerita panjang lebar tentang penyakit yang diderita istrinya dan segala usaha yang dilakukan untuk pengobatannya dan biaya rawat inap di rumah sakit. Dia juga menjelaskan bahwa istrinya setidaknya membutuhkan 1,5 juta rupiah untuk menanggung terapi pengobatan awal, tapi dia tersenyum karena sudah dapat membayar biaya rawat inap di rumah sakit di mana istrinya dapat beristirahat dengan penyakitnya yang berbahaya.

Aku memegang pundak lelaki itu dengan kedua tangan dan meyakinkannya untuk tidak pergi dulu. Aku mengambil uang simpanan dari uang jajan bulananku yang kutabung, aku setidaknya sudah menabung 3-4 juta rupiah dengan mengatur anggaranku dengan baik. Namun tanpa banyak pikir aku membawa semuanya dan menyerahkannya kepada lelaki itu. Dan dia sangat berterima kasih sampai wajahnya pucat dan ketakutan karena saking senangnya. "Saya udah jual rumah saya dek, jadi saya emang rencana nginep di rumah sakit sampe istri saya sembuh, makasih banget ya dek, saya pergi dulu" tanpa nama tanpa pesan ia pergi.

Nafas terengah engahku setelah terburu buru mengambil uang tersebut mulai teratur. Aku berjalan kaki pulang di tengah gelap menyerbu pandangan. Aku mulai menggaruk garuk kepalaku menyusun segalanya. Rasanya ada yang ketuker tuker deh harinya, apa kalenderku rusak ya. Aku berjalan dengan ringan dan aku pulang untuk tidur. Dan semenjak hari itu aku makin sering pergi ke minimarket dan mendapatkan makanan gratis dan aku menjadi teman dengan Imron. Aku hanya bisa mendoakan untuk lelaki yang tidak aku kenal, tapi aku merasa mengenalnya. Karena hidupnya seperti menumpuk awan gelap, seperti aku, atau dia masa depanku? Entahlah.

No comments: