Sunday, April 28, 2013

Substansial

Hanya karena kata yang terselip dalam kalimat lebih indah, bukan berarti ia menjadi lebih bermakna. Ribuan kata yang dipilih dengan maksud mengindahkan tidak lebih baik dari satu kata yang ingin menyampaikan dirinya sendiri. Tidak menyalak, berteriak, ataupun berjumpalitan sana sini. Sekedar kata yang ingin berbicara.

Kita terus menyelak dalam kalimat dan pertanyaan kecil, berharap ada makna dibaliknya. Berbicara tentang hidup dan idealisme seolah kita sudah hidup berkali-kali, dan yang tampak dari atas hanyalah seperti lelucon yang bersikeras menjadi realita.

Dalam selimut aku berdoa, di ruang-ruang takdir masih tersedia kemungkinan.

"Sudah tidur?" Kataku sambil membelai rambutnya yang kian transparan.

"Aku selalu berharap menjadi sedikit lebih substansial, menjadi aku di dalam aku, tidak membiarkan dunia menenggelamkan keberadaan, namun tidak terlalu tampil di atas permukaan, sekedar aku, yang menyapa dunia di pagi hari, dan mengucap perpisahan di tiap malam. Lagipula aku selalu bertengkar dengan dunia, mungkin aku akan cocok dengan diriku sendiri." Kata-kataku mungkin justru membiusnya perlahan.

Tak apa jika ingin hal-hal tidak masuk akal, asal pandai mengenal. Tidak akan cukup umur kita untuk mengenal alam semesta, namun puluhan tahun akan menjadi tiada sia apabila berhasil mengenal identitas yang substansial, yang selama ini diberikan sejak lahir.

Tidak harus menjadi besar. Tidak harus mengunyah daging manusia lain hanya untuk tinggal di dalam rumah yang lebih besar. Tidak harus menurunkan derajat hanya karena menginginkan kasih sayang. Ikuti alurnya, seperti alam semesta yang berbaur, tidak terburu-buru, namun semua selalu selesai tepat pada waktunya.

Oh.... Bukankah alam lebih substansial dari hal lainnya.

Manusia terlalu menciptakan korelasi-korelasi fana yang sebenarnya tidak pernah ada bukan?

Perjalanan mengenalMu, hanyalah sekedar perjalanan mengenalku yang ditemaniMu. Entah definisi Tuhan yang selama ini milik komunal itu bisa dibenarkan, atau itu merupakan milik pribadi, perseorangan tanpa diganggu gugat. Bukankah jika aku menjadi Tuhan, aku tidak ingin semerta-merta dijadikan tempat bergantung tanpa membiarkan hambanya mengenal sosok Tuhan itu sendiri. Jika tanpa merobek logika dan peraturan yang dimiliki kumpulan strata sosial, Tuhan bisa dinyatakan ada, dengan definisi yang tidak terlalu dogmatis, begitu juga peraturanNya, akankah lebih dalam langkahnya?

Mungkin semuanya harus mengambil langkah mundur. Tidak terlalu memberatkan arti-arti ini. Menjadi kalimat yang paling fundamental, yakni diam. Karena pada dasarnya kita hitam, tanpa suara, dan tanpa fisik. Menyelesaikan segalanya, sambil berbicara, aku, dan dunia, sebenarnya kosong.

"Aku harus tidur." Ucapku.

1 comment:

Anonymous said...

ceritain pengalaman di jerman dong kak :D