Sudah tiga hari sejak Tono menemukan bangkai kucing di atap rumahnya, dan sejak tiga hari itu juga ia mulai mimpi buruk, terbangun dengan keringat dingin tiap pukul dua pagi, dan jari jemarinya terasa dingin. Banyak mitos mengatakan jika ada bangkai binatang di atas rumah, maka tak jarang penghuninya akan jatuh sakit hingga meninggal.
"Gak apa apa, asal udah dibersihin kan? Udah jangan dipikirin, kamu kebanyakan search mitos aneh tau gak." Istri Tono 31 tahun, bekerja sebagai ibu rumah tangga.
Tono sehari harinya bekerja sebagai tukang antar air mineral galon, entah bagaimana ia dan istrinya mampu hidup mapan dengan rumah dua lantai. Para tetangga curiga bahwa Tono melakukan tindak kriminal yang umum dilakukan di era teknologi ini, yaitu pencurian pulsa via sms, dan kemungkinan kedua adalah Tono bekerja sebagai pegawai di agensi jual beli budak di daerah pedalaman. Tono tampak begitu miskin, tak heran tetangganya sangat iri akan rumah dua tingkat itu.
Siang hari ini Tono yang rumahnya berada di pelosok Jakarta Utara ditugaskan untuk mengantar air mineral ke suatu komplek Bandung, di Gegerkalong tepatnya. Entah mengapa ada pelanggan yang memesan air mineral dari jauh jauh Jakarta. Atasan Tono yang konon diktator tidak segan memerintahkan Tono untuk melakukan misi yang akan tidak akan terlupakan.
"Kamu tahu Tono? Bisnis kita lagi seret banget nih.... Kamu tahu pepatah cina 'jika air sudah dipesan, maka air harus diantar'? Kamu inget kan perjanjian kamu kalo kamu menolak pekerjaan ini? Istri kamu akan saya belah tiga sama rata." Atasan Tono 40 tahun, konon reinkarnasi dari Adolf Hitler.
"Pepatah apa itu pak? Ya ga usah pake gitu gitu juga saya anter kok pak, naik motor pak?" Tono pucat pasi.
"NGGA! Naik getek!" Atasan Tono dengan lawakan vintagenya yang tak kunjung pudar.
Tanpa banyak bicara Tono langsung pulang mengambil jaket dan pamit kepada istrinya untuk pergi ke Bandung dengan motor bebeknya yang sudah tidak mirip dengan bebek lagi, lebih mirip dengan motor ayam kalkun. Istrinya hanya bisa menahan haru karena suaminya diharuskan dinas untuk mengantar air mineral galon ke tempat entah berantah. Istrinya tidak menyangka bahwa perilakunya di masa yang lalu mampu merepotkan suaminya sekarang.
Apakah yang dilakukan istrinya di masa lalu? Saya sebagai narator saja tidak tahu apa yang dilakukan istri Tono, sungguh misterius.
Dimulailah perjalanan Tono, dengan motornya yang sudah tidak berbentuk, helm tidak standar SNI, dan hanya sebuah air mineral galon seharga sembilan ribu rupiah. Mula mula Tono mengisi bensin motornya dengan premium di pom bensin dekat rumah, dan pertamax di pom bensin selanjutnya. Sungguh misterius apa yang dilakukan Tono.
Baru 15 menit perjalanan, Tono menyadari bahwa ada informasi penting yang seharusnya ia ketahui sebelum berangkat. Tono tanpa rasa ragu memutar balikkan motornya ala Taufik Hidayat, dan menancapkan gasnya dengan penuh keyakinan ke kantor polisi.
"Siang pak, Bandung lewat mana ya pak kalo naik motor?" Tono dengan bodohnya.
Dengan instruksi yang sangat jelas dan peta yang diberikan oleh pak polisi, Tono menangis, karena ia tidak mengerti satu kata pun apa yang disampaikan oleh petugas.
Penuh keyakinan dan keraguan yang bercampur aduk di relung hatinya, Tono terus mengayuh sepeda motornya, entah bagaimana sepeda motor bisa dikayuh. Tono terus menerebos jalan tol yang seharusnya dilalui oleh kendaraan beroda empat. Kendaraan patroli dengan instan mengejar Tono yang melanggar peraturan. Tapi Tono sadar, bahwa hanya ini yang bisa dilakukan untuk menghidupi keluarganya. Tono menarik kendaraannya hingga melewati kecepatan normal, motornya meraung raung seolah mesinnya mau meledak.
Setelah 2 jam perjalanan menjadi buronan di jalan tol, Tono dan para polisi patroli beristirahat untuk mengkonsumsi makanan khas Bandung, yakni sate.
Tono berbincang bincang dengan orang yang akan berusaha menangkapnya, mereka menjadi akrab dan memutuskan untuk melupakan apa yang telah terjadi. Dan Tono tersenyum dan menghela nafas dengan lega.
"Jika bukan karena Tuhan, entah apa yang terjadi pada hamba." Tono, bersenandung bersama makanan khas Bandung.
Setelah keluar tol pasteur dengan percaya diri, Tono mengambil belokan pertama sebelum lampu merah. Maklum Tono adalah salah satu mantan personil geng motor yang telah kembali ke jalan yang benar, ia tahu persis jalanan Bandung.
Sesampainya di alamat yang ia tuju, ia membunyikan klaksonnya yang ciamik.
"TIN TIN! Kang galonnya kang." Tono dengan manis.
"Akhirnya kamu datang juga Tono. Ha ha ha." Nampak orang tua mengenakan kacamata dan jas hitam.
"Siapa anda!?" Tono memegang sabuknya bersiap siap untuk berubah. Sadar ia bukan pahlawan macam satria baja hitam, ia mengulur gerakan itu perlahan. Tono malu sendiri.
"Mungkin kamu tidak kenal saya.... Tapi teman saya kenal kamu.... Ha ha ha...."
Sambil memperhatikan si kakek bicara, Tono mengambil air mineral galonnya dan mengambil tissue basah standar untuk membersihkan galon tersebut.
Dengan tampan Tono menampar kakek tua tersebut, ia sudah tidak mampu mendengar celotehan karena ia sudah jauh jauh dari Jakarta untuk memberikan minum tersebut. Kakek itu pun sadar bahwa ia telah berbuat salah dan memberikan tarif air mineral galon dua kali lipat dari harga seharusnya. Dan Tono pun menangis, hari itu ia sadar bahwa ia telah menjadi makhluk yang sangat dingin. Tono menyadari bahwa ia sudah lama mati, Tono hanyalah mayat hidup.
2 comments:
tolong dong jelasin pesan dari cerita ini apa... otak saya ngga nyampe
HAHA, aduh ini sangat bermakna tau, terimakasih sudah baca <3
Post a Comment