Saturday, May 19, 2012

Sempat?

Selama ini gw suka hanyut sama pertanyaan akan dunia ini, kenapa semua berangsur begitu dingin, cepat, dan tidak berbelas kasih terhadap makhluk yang berada di dalamnya. Kadang tiba tiba ada penolakan yang sifatnya sementara dari diri gw. Di awal umumnya gw bakal bilang "Anjrit males banget kalo kayak gini mah...." tapi berangsur angsur akhirnya nyerah dan balik ke rutinitas.

Ya kenapa manusia di suruh ini itu padahal baru lahir, baru aja nyampe di dunia ini sekitar 18 tahun yang lalu. Toh cuman ingin sekedar menikmati lautan yang biru, pegunungan yang hijau, dan menikmati indahnya kehidupan, pingin deh gelinding dari puncak gunung sampe ke bawah.

Setiap gw bercerita tentang hal ini, mereka pasti membalas dengan wajah anehnya "Lah, that is life gitu. Mau minta apa lagi? Mau kabur dari semuanya?" dan kadang gw cuman bisa ngebales "Ya, kenapa ga satu bulan, manusia di seluruh dunia cuti bersama. Apa yang perlu ditakuti sih, makanan ada, energi masih ada, ga bakal ada alien invasion juga...." itu bukan 'cuman' sih, itu jawaban yang rada ngasal untuk pertanyaan yang cukup dalam.

Ya, kalau diminta untuk melakukan apa yang mau dilakukan, pasti semua orang sekedar mau main main, bercengkrama dengan semua orang yang disuka, paling cuman 20% dari masyarakat dunia yang benar benar mencintai pekerjaannya. Sisanya? Ya sekedar hidup, sekedar asyik, walaupun sampe sekarang gw masih ga tau, apa yang begitu 'sekedar' dari hidup, kalau hidup aja 'sekedar', yang benar benar punya arti apa?

Tapi lambat laun juga gw sadar bahwa tanpa kesibukan, penderitaan, dan tekanan, manusia ga akan berkembang, dari segi manapun. Ya kita tau bahwa sewaktu kita belajar naik sepeda, ga ada satu orang pun yang langsung bisa ngendarain tanpa jatuh sama sekali, tapi karena setelah berkali kali kita jatuh terus tiba tiba berhasil itu yang bikin kita girangnya bukan main, kita suka itu.

Walaupun akan terdengar aneh, kita mencintai penderitaan seperti kalanya kita mencintai kebahagiaan, it all comes in one package. Entah hal ini akan berlaku untuk hal lainnya atau tidak, tapi yang pasti adalah... kadang memang beberapa hal terikat satu sama lain. Bukan karena apapun itu, tidak pernah ada jawaban atas itu, karena memang sistemnya dari sana begitu.

Ya, andai kalau kita mau, barangnya langsung ada, seperti konon di surga, akankah sensasinya sama? Mungkin dunia ini adalah ajang untuk menderita sambil berbahagia. Karena di alam sana, penderitaan dan kebahagiaan, akan dipisah lagi, seperti sedia kala. Ya ya ya.

"Mungkin dari awal, tidak pernah ada jawabnya, semua ini hanya pertanyaan yang terlalu kritis, dan jawaban yang dibuat buat oleh otak yang sok bisa menjawab semuanya" ya sambil mata sayu gw udah terhuyung huyung untuk melanjutkan kalimat kalimat angkuh ini.

Dan hidup, saya mengaku menyerah, mulai hari ini saya akan berhenti mempertanyakan tentangmu, dan mulai merasakan apa yang telah engkau berikan padaku. Saya akan bergulir, menua, berusaha, dan tetap tersenyum meskipun kau akan selalu mengecewakanku, tapi akan ku anggap perlakuanmu seperti pembelajaran naik sepeda yang menyenangkan. Mungkin suatu hari kau akan mengajariku cara untuk terbang, cara untuk melupakan ini semua, cara terbaik untuk bahagia, mungkin dari awal kau ada untuk mengajariku untuk bahagia, akunya saja yang banyak bertanya. Semoga sekarang masih sempat.

Saya ingin mengulang lagi dari nol, bolehkah?

3 comments:

Anonymous said...

Sometimes your brain is your strongest enemy in life.

zahrathira said...

cool. as always

Anonymous said...

Yg sabar ka rana :) semangat trss!