Sebut saja ini di alam yang lain, di sisi lain, anggap saja begitu. Ini sekedar aku, dan halusinasi.
Hujan deras menghampiri kampus, lagu mulai dilantunkan, suara gemercik air berdampingan dengan dengung piano, beruang bersandar di depan tembok sambil menghirup wangi hujan, entah ada apa dengan yang aku lihat, mungkin alam bawah sadarku sedang berbicara lewat penglihatanku.
Tangga mulai menjadi bengkok, berputar seakan runtuh, aku mengambil langkah demi langkah seolah mereka adalah langkah terakhirku.
"Kereta, ya kereta ada di sini, kenapa...."
Di depanku ada kereta yang melaju dengan cepat, aku melihat gerbong demi gerbong bergantian menyapaku, kereta ini tidak kunjung berhenti dan terus menghalangi langkah dan pandanganku. Setiap sela dari kereta tersebut, meski sekejap aku melihat seseorang dengan senyum aneh.
"Oh ternyata ia si beruang, sekedar wanita pakai kostum beruang."
Syal? Benda yang menghalangi pandanganku berubah, kereta yang tadinya melaju cepat berganti dengan syal yang bergerak mengayun terus menerus. Aku pun tersenyum kecil, aku mulai sadar ini hanyalah mimpi, pipiku mati rasa. Aku bergegas berlari kesana kemari untuk mencari hal yang bisa kutemukan di alam ini.
"Ayolah, apa yang selama ini aku sembunyikan...."
Ruangan di mana aku berdiri semakin gelap, kali ini benda di sekitarku yang bergerak, seolah aku berjalan padahal tidak. Kursi, di mana mana kursi, dan tidak ada seorang pun yang duduk di sana, hanya kursi yang berdiam diri. Kursi itu menari, memberikan ketukan, seolah mereka bernyanyi penuh kekompakan. Lambat laun kursi itu berhenti menari, lalu menyusun barisan.
Kini kursi itu menyusun baris demi baris dengan rapat, di tengahnya lagi lagi ada wanita dengan kostum beruang. Aku mulai jalan mendekat, wanita ini tidak terlalu kukenal, namun aku sudah lama mengetahui keberadaannya. Aku mendekat dan duduk di sampingnya. Semenjak aku duduk di samping, wanita itu tidak berhenti bicara, namun ia selalu mengatakan kata kata yang selalu ingin kudengar. Ya, konyol, ia terdengar seperti mengenalku.
Tiba tiba ruangan menjadi gelap, tiba tiba layar turun dari ujung langit langit, proyektor langsung memutarkan film dan suara gemuruh perang terdengar, ya film perang dunia. Tak lama lagi, layarnya melilit dengan sendirinya, air pasang datang, mencoba menenggelamkan aku dan si beruang. Anehnya kursi kursi tersebut menyusun diri mereka sendiri hingga berbentuk balok dan mengapung di atas air tersebut. Lagi lagi si beruang hanya diam dan tersenyum aneh.
Dan aku memejamkan mata dengan erat, setelah terbuka, aku masih berada di kampus seperti sedia kala, nampaknya aku sudah gila.
2 comments:
baca buku2 dewi lestari (dee) ngga? sepertinya kamu akan terkenal seperti dia hehehe
Sukaa :)
Post a Comment