Sunday, January 22, 2012

Lima Dani

Sisa kehangatannya masih tersisa di telapak tanganku yang terbuka, ini akan menjadi kenangan, suatu kesenangan yang datang dari keragu-raguan.

Seperti pertemuan lainnya, aku bertemu di tempat yang tak diduga, jika saja ini tidak harus diselesaikan, akan kumulai dari pertengahan saja untuk mempermudah cerita ini.

Pada pertengahan ceritaku dengan Lima ia sedang manis manisnya, tak jarang aku mulai menggambar masa depan wajahnya untuk menjadi pendamping masa depan, di mana kita tinggal di tempat yang jauh dari manapun, kalau bisa berada di dalam laut, tetangga terdekat kita adalah Ibu Kerang dan Pak Hiu. Kalimat yang saling kita tukar mengalir, bahkan aku tidak ingat lagi pembicaraan apa yang telah disampaikan.

Salah satu kelemahanku sebagai Dani adalah aku adalah aku, yakni aku Dani pria yang tak pernah merasa layak untuk menemaninya, bukan karena faktor ekonomi maupun penampilan fisik, melainkan karena aku merasa seperti magnet positif, sedangkan ia adalah pisang, kita adalah dua hal yang berbeda, tidak ada hubungannya sama sekali.

Jika sebelumnya aku tidak menyebutkan penampilan fisik, maaf, ada satu hal yang terlewatkan, Lima lebih tinggi tiga centimeter di atasku, namun entah mengapa begitu terlihat.

"Lima itu karena kamu anak kelima kan ya?"

"Ih udah lama kenal tapi gak tau, lima itu tempat aku lahir, peru, tau?"

"Eh serius kamu lahir di peru? Ngapain balik lagi ke sini ih sok nasionalis"

"Haha ya kali aku lahir di Peru, iya aku anak kelima emang, si bungsu manis dong" Lima sambil tersenyum bercanda.

Ketika itu aku sedang berjalan bersamanya, namun agak aneh, dia lebih suka berada di sebelah kananku ketimbang di kiri, walaupun beberapa kali aku berhasil mengambil posisi kanannya, entah kenapa aku terlalu memperhatikan hal ini, mungkin Lima tidak tahu juga kebiasaan anehnya itu. Kembali ke cerita, ia membeli majalah yang biasa ia beli, lalu memintanya membalik balik majalahnya bersamaku, dan waktu yang bisa dihabiskan untuk melakukan ini bisa sampai satu jam.

Panggilanku untuk Lima sewaktu itu ialah surga, ya cukup menjelaskan bagaimana hari hariku dibuat seperti apa, ya nama panggilannya.

Kali ini akan kujelaskan bagaimana kita bertemu;

Aku kenal dengannya di hari Kamis di pagi hari, ibu pemilik toko buku tempatku bekerja mengenalkan keponakannya, Lima. Ia tidak terlihat lagi hingga hari Senin, wajahnya ya tipikal wanita, punya mata, hidung, dan alis, tapi Lima tak punya bulu mata. Bahkan aku saking penasarannya sempat menanyakan di awal minggu ku kenal mengapa ia tidak punya bulu mata.

"Oh aku emang kayak gini dari kecil, jadi ya kalau ada yang ganggu mata mesti nguap, kalau nggak nangis, iya aku gampang nangis orangnya, maaf ya" sambil memberikan senyum yang membutakan mata.

Susunan katanya selalu aneh, setiap ia bicara dengan ibu pemilik toko, kadang aku datang mengomentari penggunaan katanya yang absurd, mungkin sejak hari itu Lima membangkitkan bakat terpendamku, menjadi komentator.

Dan kini sudah sampai di tahap akhir, bagaimana aku pergi.

Semakin hari kita semakin dekat, namun semakin aku tidak mengenal Lima, semakin banyak yang disembunyikan semakin kita berbicara, mungkin kita akan saling mengenal jika aku berhenti untuk mencoba saling mengenal. Namun aku tidak pernah berhenti.

Dan sampai pada waktunya ketika aku masuk kumpulan pria yang bersedia untuk dikirim ke Irak menolong kaum agamaku yang berada di sana. Dan di sana lah aku mati karena ledakan orang fanatik bunuh diri, entah rasa atau tubuhku. Dan cerita ini tidak pernah selesai. Mungkin suatu hari akan memiliki penyelesaian yang lebih baik, atau rasa hangat itu akan ada lagi, sekarang semua dingin, mati itu tidak enak.

1 comment:

Anonymous said...

yang ini ceritanya ga bersambung?