Kadang ada pihak yang bisa disalahkan atas suatu kejadian buruk, atau tidak sama sekali, hanya murni nasib yang menjadikan dia bersalah. Namun apa pilihan yang tersisa ketika kita sudah dicap atau minimal merasa bersalah?
Sebelum lanjut membaca, ya udah bagus sih jika merasa bersalah, jadi mari kita ambil sesuatu yang positif di keadaan yang hiruk pikuk ini. Anda sadar anda berada dalam masalah, itu cukup.
Siapa yang berada di dalam masalah ini, apa anda mengakibatkan masalah untuk orang lain juga? Kalau iya, bagus, berarti anda punya masalah baru. Setidaknya ada kata kunci yang harus anda pegang di keadaan ini, "Tuhan tidak akan mencoba hambaNya melebihi kemampuannya", jika masalah ada, berarti anda bisa menyelesaikannya. Meskipun anda yang membuatnya, meskipun anda adalah pelaku utamanya, itu kata kata Tuhan, jadi tolong dipercaya dulu, ini bisa diselesaikan.
Jangan kabur, jangan.
Selalu ada jalan tengah, kalau anda percaya, anda tahu kenapa banyak anak yang bandel tapi ujung ujungnya sukses juga? Tapi ada anak rumahan yang tau tau malah berantakan hidupnya? Ya karena yang bandel lebih sering ngomong 'iya', akhirnya dia kejebak masalah, dan beberapa dari mereka jadi terlatih menghadapi masalah dan menyelesaikannya, sedangkan yang anak rumahan kebiasaan bilang 'ngga', dan akhirnya kalau ada salah dikit kabur dari semuanya.
Jangan kabur, saya tahu kita semua punya masalah masalah kecil yang kita koleksi, atau baru saja membawa pulang masalah besar, jangan kabur, memang hidup seperti ini, menyebalkan, kita dilahirkan di dunia ini, digoda, dan kalau gagal masuk neraka, susah kan? Makanya, saya juga tidak mengerti kenapa hidup sesusah ini, atau saya yang membiarkan hidup saya jadi susah begini.
Ya, begitulah, seperti yang saya selalu katakan, saya tidak pernah bisa mendikte anda harus seperti apa di dalam hidup anda, saya hanya ingin menjadi persuasif sekaligus berbagi apa yang sedang terjadi. Entah mengapa, saya merasa bersalah, tolong saya.
1 comment:
kurang setuju dengan pendapat bahwa anak "bandel" akan sukses dan lebih mudah untuk menyelesaikan masalah dan anak "rumahan" akan susah dalam menyelesaikan masalah. Menurut saya, asumsinya kurang dapat diterima karena menurut saya, itu semua tergantung pada kepribadian masing2 orang dan mengapa seseorang menjadi "bandel" atau menjadi "rumahan". thankyou no hard feeling :)
Post a Comment