Kadang kita tidak tahu kapan harus mengambil keputusan, bersabar dengan yang ada di depan kita, atau menunggu sesuatu mukjizat yang sesuai dengan ekspektasi kita. Bukan kadang malah, kita selalu begitu.
Sebenarnya kita agak salah mengartikan peribahasa "orang sabar disayang Tuhan", karena sabar itu really vague word yang subjektivitasnya benar benar abstrak per orangnya, mungkin lebih tepat jika peribahasanya direvisi sedikit menjadi "orang konsisten disayang Tuhan".
Jika saja kasusnya seperti ini;
Jam 5 sore, gerimis mendung mau hujan, gak ada yang jemput, lagi di halte dan sudah waktunya pulang, bus penuh semua, taksi gak ada duit, dan ojek takut hujan. Bersabar menunggu bus yang kosong, maksain diri naik taksi, atau hujan hujanan naik ojek. Sebenernya gak ada pilihan yang benar benar tepat untuk kasus ini, yang diperlukan hanya sedikit konsistensi.
Jika anda memutuskan naik ojek, tiba tiba di tengah jalan mulai agak deras hujannya, anda turun dari ojek, lalu maksain gelantungan di bus, tiba tiba di tengah jalan anda ngerasa kesempitan, lalu anda akhirnya pindah lagi naik taksi karena gak kuat. Dan ternyata benar, dompet anda tinggal 500 perak beserta bungkus permen kopiko.
Sebenarnya pilihan apapun ada positif negatifnya, gak mungkin pilihan yang kita pilih itu salah total ataupun gak ada resiko apapun, dan kalaupun mau berganti jalur, berusahalah sedikit lebih konsisten dengan jalur yang dipilih, karena perjalanan kita ini panjang, bakalan susah dicapai buat orang yang plin plan dengan pilihannya. Ngeluh boleh, komplain boleh, emang pasti berliku liku, tapi "orang konsisten disayang Tuhan".
Kalau sabar, sekedar sabar nunggu dapet duit dari orang tua di daerah, sabar nungguin teko air mendidih, itu ya mungkin lebih mirip dengan menunggu. Sabar lebih mirip dengan konsistensi perasaan dan niat untuk mencapai tujuan tujuan yang kita mau. Bagaimana jika gak punya tujuan? Jadi kita ga bisa konsisten dong?
Ya yang pasti orang yang punya mimpi bakal lebih konsisten daripada orang yang gak. Jika belum punya mimpi, lihatlah orang tua kalian, minimal kalian mau setara kan sama mereka dan lebih baik dari mereka kan? Ya mulailah konsisten untuk itu dulu. Perlahan lahan, dengan nilai nilai baik yang kumulatif, hidup juga akan mengikuti benih benih yang kita tanam.
Jadi pingin nanem pohon pisang....
No comments:
Post a Comment